Kamis, 24 Januari 2013


Hitam menggenang. Sungai Dusun Kedungsari tengah mati suri. Mari suri dengan ketabahan tinggi. Tabah menunggu hujan yang tak kunjung tumpah. Tabah menerima peran sebagai penanggung sampah. Tabah tanpa desah. Tapi sungai itu belum mati. Ya, hanya saja dehidrasi. Dehidrasi berat, karna tak henti dicekoki.
Jam di masjid Baitul Mustaqim berdentang 2 kali, merobek kesunyian desa. Matahari kukuh beringas. Istiqamah memanggang bumi. Rerindangan bambu melindungiku dari pandangan matahari. Aku belum beranjak di bibir sungai. Mataku menyapu pandang ke seluruh tubuh sungai yang tersakiti. Hatiku tak kuasa menghujat perbuatan jahil insani ini. Mungkin inti bumi juga tak kuasa menyumpah nyerapahi apa yang terjadi. Ya, skala kebobrokan kecil dari kenyataan ‘pekarangan’ dunia yang awut-awutan.
Tapi tunggu dulu. Mungkin sungai ini masih bisa tersenyum. Atau setidaknya merasa berguna. Karena gerombolan kangkung yang menghijau, sejahtera berpopulasi di sini. Ya, walaupun harus ikut dicampakkan, karena tumbuh diatas genangan sungai yang kumuh. Pun dengan katak-katak yang nyaman beranak-pinak. Sementara itu, agaknya mikroorganisme dekomposer masih bersusah payah membantu menguraikan polutan sampah yang tak kunjung enyah. Berbagai rupa kaleng, botol, plastik, dan karet, serta bangkai-bangkai rerumputan terlantar di sana-sini. Semua bergabung dalam ekosistem teracuhkan.
Dari arah utara, di puncak anak tangga jembatan sungai, terbit Bulek Yayuk. Tangan lusuhnya tengah bekerja keras membopong ereg1 yang penuh dengan limbah rumah tangga. Lalu memposisikan diri di pinggir jembatan. Seolah tanpa dosa, ia menumpahkan ereg itu 1800 ke dalam sungai. Sejurus kemudian dipukul-pukulkannya ereg itu, memastikan tak ada sampah yang tertinggal. Tiba-tiba kami bertemu pandang.  
“Nganu paran iro neng kono Sulpay…?3” teriak Bulek Yayuk. Kebiasaan orang Osing2 menyebut nama yang berhuruf ‘f’ menjadi ‘p’ dan akhiran huruf ‘i’ di baca ‘ay’. Namaku jadi berantakan.
“Ningali kali mawon. Sampae kari katah. Kok saget ngresek mekoten nggeh4” sindirku.
“Alah, suwi-suwi yaro diterak banyu. Gedigu baen kok repot,5” jawabnya kalem.
“Kapan mikire mekoten nggeh banyune tambah tercemar Bulek. Kualitas banyune tambah mboten eco. Masyarakat mengke gampang penyakiten6,” tukasku.
“Alah, kemeruh iro iku!7” sengitnya. Dengan pandangan sinis di bawah alis tebal, ia selanjutnya membanting muka, kembali ke peraduannya.
Begitulah Bulek Yayuk, satu diantara mayoritas warga yang tak libur menabung sampah di sungai ini. Entahlah, bagaimana meluruskan jalan pikiran warga sepertinya. Andaikan suaraku lebih didengar!

Selasa, 24 Juli 2012

Assalamualaikum Wr. Wb.
SALAM PRAMUKA,,!!!
ZoKa adalah nama yang selama ini disebut-sebut dan mengundang rasa penasaran bagi kita semua. apa dan siapa dia?

Minggu, 24 Juni 2012


Jumat, 22 Juni 2012


Terilhami dengan memelannya 'gong' Pramuka di masyarakat. Dimana Pramuka semakin merosot posisinya di hati masyarakat. Senin (27/6/2011), Gugus Depan Berbasis Komunitas Gerakan Pramuka Menulis (GPM) diresmikan. Satuan pendidikan dan organisasi ini dimotori Pengurus dan Domisioner Dewan Kerja Ranting (DKR) Srono kala itu.
Di kala relevansi Pramuka terhadap masa depan peserta didik banyak dipertanyakan. GPM mencoba tampil mencanangkan Majalah Pramuka sebagai media yang dapat mewartakan kepositifan dan urgensi Kepramukaan. Sehingga selanjutnya dapat berperan sebagai media kehumasan Gerakan Pramuka. Disamping itu media ini diharapkan dapat mentransfer pengetahuan, warna percerahan dan nilai-nilai luhur kepramukaan kepada para Pramuka dan masyarakat umumnya.
Tetapi, akibat pembinaan dan pendanaan yang rapuh membuat GPM pingsan beberapa bulan. Hingga akhirnya siuman kembali dengan semangat baru didukung kepengurusan DKR yang baru juga. Gebrakan perdana dilakukan dengan mengadakan Seminar dan Workshop Menulis bekerja sama dengan Forum Lingkar Pena Banyuwangi Ahad lusa (10/6).
Dalam upayanya mengawinkan kepramukaan dan budaya baca tulis yang modern, GPM mencanangkan misi baru membelah masa depan :
·         Mengembangkan Pramuka yang berdekatan dengan masyarakat. (Sehingga hasil kerjanya bisa dirasakan masyarakat. Sebagai Gugus Depan berbasis komunitas yang berpangkalan di masyarakat (tidak di instansi sekolah) berusaha memberikan kesempatan yang sama bagi setiap anak bangsa Indonesia memperoleh pendidikan karakter)
·         Ikut mensosialisasikan dan membudayakan budaya baca tulis di masyarakat (Book reader and writer society).
·         Memberikan paduan pembinaan kepramukaan dan kepenulisan secara berkala sehingga dapat membentuk keterampilan (live skill) menulis dan karakter luhur anggota.
·         Mentransfer pengetahuan, warna pencerahan dan nilai-nilai luhur kepramukaan melalui media tulis. (Media tulis dinilai efektif dan dapat dinikmati semua usia dan golongan.)
·         Media kehumasan Gerakan Pramuka.

Di usia yang masih dini, tentu masih jauh kiranya kata keberhasilan. Perlu kepedulian semesta dari semua armada Pramuka – khususnya di wilayah kerja Kwartir Cabang Banyuwangi – untuk lebih mendengungkan ‘gong’ Gerakan Pramuka di masyarakat. Lepas dari semua kelemahan dan hambatan dalam konteks intelektual masyarakat kita, GPM mencoba optimis terus eksis. Menjadi kebahagiaan tersendiri belajar dan ikut serta membangun masyarakat. 1 hati, 1 aspirasi. (Dian Ali GPM)

Kamis, 14 Juni 2012




SRONO-Satu lagi gebrakan yang dilakukan dalam upaya mendentumkan kepramukaan di lingkungan masyarakat. Seminar dan workshop bertema “Melejitkan Potensi Menulis, Meraih Beribu Manfaat” dilaksanakan di aula UPTD Srono  Ahad lalu (10/6).  Sekitar lima puluh peserta yang terdiri dari pelajar, mahasiswa dan masyarakat umum antusias nimbrung di acara ini.
Adalah pak Affan Subandi, ketua Forum Lingkar Pena Banyuwangi dan sekertarisnya, pak Muhammad Syamsuri yang begitu legowo menyuapi ilmu kepenulisannya kepada para peserta. 
“Dari Gagasan Menuju Tulisan” adalah tema pertama disajikan pak oleh pak Muhammad. Sub tema seperti urgensi menulis yang memaparkan betapa pentingnya menulis dan proses tulisan dari mulai peneloran ide menuju pengembangan menjadi konsep serta penuangan ide ke dalam tulisan, dikupas tuntas. “Jika ingin berumur panjang, maka abadikan dirimu lewat tulisan”, paparnya. Selain itu bentuk karya tulis dan bahasa tulis juga dikenalkan dalam forum ini.
”Dengan modal kepemilikan ide, kemampuan berimajinasi dan menulis, maka sebenarnya menulis itu mudah.” Penjelasannya yang merombak mindset peserta yang mayoritas menganggap menulis itu runyam.

Sabtu, 09 Juni 2012